Telur Ayam dan Daging Sapi Patut Diwaspadai

Data dari Badan Ketahanan Pangan beberapa bulan yang lalu mengatakan bahwa dari sembilan bahan pokok hanya jumlah produksi telur ayam yang lebih sedikit dari konsumsinya. Walaupun sedikit, tapi hal ini bisa menyebabkan ketidakstabilan di pasar. Kemudian dari komoditas lain, ditemukan harga daging sapi di tingkat konsumen terus meningkat melebihi batas wajarnya padahal stok daging sapi sudah tercukupi dengan diperbesarnya keran impor beberapa bulan yang lalu.

Secara keseluruhan memang kita bisa berbangga akan keadaan pangan Indonesia yang sedang di atas angin. Harga lebih murah dari pasar internasional. Stok pangan strategispun sudah bisa membuat kita semua mengelus dada. Namun, perbaikan tetap perlu terus dilakukan demi mencapai kemapanan pangan yang lebih baik lagi.

Telur ayam dan daging sapi merupakan sumber protein hewani masyarakat Indonesia. Gejolak di dalamnya secara langsung maupun tidak langsung akan mengakibatkan gejolak juga di titik yang lain.

Belum Sinergis

Ketika dikonfirmasi kepada Hartono, ketua Pinsar (Pusat Informasi Pasar) Unggas Nasional di sebuah kafe di Bogor mengenai defisitnya produksi telur nasional, ia mengatakan bahwa data tersebut tidak benar. Tidak sesuai dengan kondisi yang ada di lapangan. “Lihat saja, kenyataannya sampai saat ini suplai kita cukup. Seharusnya pemerintah menanyakan kepada kami terlebih dahulu sebagai lembaga yang mempunyai data paling lengkap sehingga kami bisa memberikan data yang lebih akurat,” tuturnya.

Hartono merasa hubungan antara pemerintah dengan asosiasi produsen telur ayam, dalam hal ini Pinsar, kurang begitu sinergis. Mungkin ini yang menyebabkan terjadinya diskomunikasi data yang tersebar di masyarakat tersebut. “Selama ini kami yang bekerja keras membangun kejayaan telur sehingga bisa swasembada seperti sekarang ini. Campur tangan pemerintah sangat kecil. Pemerintah menganggap telur ini sudah merdeka, tidak perlu dibina, akhirnya dilupakan. Keberpihakan pemerintah pada produsen telur masih kurang, terbukti dengan dibukanya keran impor untuk tepung telur yang jelas-jelas menggerus produsen telur lokal. Seharusnya hal seperti ini dibicarakan terlebih dahulu dengan asosiasi,” jelas Hartono.

Melalui Pinsar, banyak petani telur yang masih bisa hidup sampai sekarang sehingga swasembada telur ayam tercapai. Permainan harga semakin jarang terjadi karena petani telur mendapatkan banyak informasi berharga dari Pinsar. Stabilnya harga telur ini tentu menguntungkan bagi konsumen dan produsen. Masyarakat semakin cinta dengan telur ayam, terbukti dari hasil survey yang dilakukan Pinsar. “Survey kita mengatakan bahwa 80% dari rumah tangga punya simpanan telur di dalam kulkasnya. Yang 20% sisanya tidak mempunyai simpanan telur karena tidak punya tempat penyimpanan, tapi tetap setiap hari dia beli telur dari warung-warung,” jelas Hartono.

“Dulu perbedaan harga tertinggi dan terendah telur ayam ini bisa mencapai 20%, tapi semakin membaik setiap tahunnya. Tahun ini perbedaan harga menjadi 15%, tapi kami dari Pinsar tidak cukup puas dengan hal tersebut. Kami menargetkan perbedaan harga bisa ditekan lagi sampai kurang dari 10%,” tegas Hartono. Semakin rendah disparitas harga maka akan semakin stabil harga di petani yang kemudian akan membuat petani telur akan semakin sejahtera.

Selama ini harga telur bergejolak hanya ketika suplai berlebih, tapi keadaan itupun terjadi perlahan, sehingga kenaikan atau penurunan harga juga terjadi perlahan. Antisipasinya bisa cepat dilakukan untuk mengatasi hal tersebut. “Yang harus kita amati adalah tingkat ketersediaan dan tingkat kemerataan ketersediaan tersebut. Bagaimana supaya Indonesia bagian timur tetap terus dapat mengonsumsi telur dari Jawa Timur yang merupakan salah satu sentra produksi telur ayam,” tutur Hartono.

Daging Naik Lebih dari 10%

Harga daging sapi di tingkat konsumen memperlihatkan peningkatan yang lebih dari tingkat kewajaran berdasarkan pernyataan dari pemerintah, yaitu 5-10%. Menurut Gardjita Budi, Direktur Pemasaran Domestik Deptan, Harga normal daging sapi itu 56 ribu, pada awal puasa kemarin berkisar 60-65 ribu. Kemudian pada minggu kedua September mencapai angka 70 ribu.

Berarti kenaikan harga daging sapi adalah sebesar 14 ribu dalam kurun waktu satu bulan menjelang lebaran atau naik lebih dari 20% dari harga sebelum gejolak.

Menanggapi hal tersebut, Teguh Boediyana, Executive Director Apfindo (Asosiasi Perusahaan Feedloter Indonesia) berkomentar bahwa sebetulnya peningkatan harga dari Apfindo di tingkat produsen tidak sebesar yang terjadi di tingkat konsumen. “Kalau kita lihat gejolak harga di feedloter ini memang naik, tapi cuma sekitar 2% saja. Kita dari Apfindo memandang dari harga sapi hidup. Saat ini, sapi hidup rata-rata 22.500/kg atau karkasnya 44-45000/kg,” jelas Teguh. Menurutnya, pengecerlah yang menaikkan harga cukup tinggi karena ingin memenuhi kebutuhannya ketika lebaran.

“Untuk daging sapi ini bisa dikatakan sepanjang tahun stabil. Gejolak terbesar itu ya ketika lebaran ini. Dari H-7 sampai H-1 permintaannya meningkat dua sampai tiga kali dari biasanya. Tapi setelah itu tidak ada kegiatan sampai H+3. Beberapa hari setelahnya juga masih sepi, naik sedikit demi sedikit. Kesimpulannya, hanya terjadi lonjakan di beberapa hari itu saja, tapi setelah itu tidak ada kegiatan kemudian stabil lagi. Jadi, sebenarnya kalau kita tarik garis lurus ya rata-rata saja.

“Yang menarik sekarang ini, pasokan dari sapi-sapi feedlot masuk ke daerah-daerah yang sebelumnya tidak pernah dipasok, seprti Palembang, Aceh, dan Sumatra Utara. Trennya mningkat pesat. Kita kurang tahu mengapa hal ini terjadi. Kami menduga kondisi social ekonomi mereka membaik, dengan harga majunya sawit dan karet mungkin berpengaruh. Daya belinya menjadi lebih baik,” cerita Teguh.

Faktor Psikologis

Selain gejolak yang terjadi secara masal di hampir seluruh daerah di Indonesia untuk harga daging ketika lebaran, beberapa gejolak harga juga terjadi dalam cakupan lokal. “Selain supply dan demand, harga juga dipengaruhi oleh faktor psikologis. Bisa jadi ekspektasi pasar yang menginginkan harga untuk naik, bisa juga nilai-nilai kedaerahan,” jelas Teguh.

Sebut saja Aceh. Setiap tahun, di Aceh terjadi dua kali lonjakan besar-besaran harga daging sapi, yaitu beberapa hari menjelang puasa dan beberapa hari menjelang lebaran. Harganya bisa menembus angka 100 ribu rupiah. “Dalam tiga tahun terakhir ini memang harga ketika menjelang puasa dan menjelang lebaran berkisar 90-110 ribu rupiah,” kata Hendra Saputra dari Dinas Peternakan Nanggroe Aceh Darussalam. Ia menjelaskan bahwa ada yang namanya budaya “megang” ketika menjelang puasa dimana semua orang Aceh akan membuat dan mengonsumsi daging sapi. Tidak sembarangan sapi yang mereka konsumsi, tapi hanya sapi lokal Aceh yang diminati. Padahal, masyarakat bisa saja membeli dari Medan yang hanya mematok harga setengah dari harga daging sapi di Aceh, tapi masyarakat Aceh tetap memilih daging lokal Aceh. “Sapi lokal Aceh kurus-kurus, mempunyai lemak lebih rendah, sehingga akan lebih nikmat untuk diolah menjadi rendang dan olahan daging yang lain,” kata Hendra.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: