Sembako Selalu Bergejolak di Hari Besar

Setiap tahun, ketika mendekati hari-hari besar keagamaan, para pedagang seakan telah membuat suatu kesepakatan tak tertulis untuk menaikkan harga bahan makanan, baik hulu maupun hilir. Masyarakat juga seakan terbius dengan kebiasaan tersebut sehingga menganggap itu merupakan suatu kewajaran yang setiap tahun terjadi. Sebetulnya, bagaimana ini bisa terjadi?

Seperti yang terjadi lima tahun terakhir ini, setiap menjelang bulan puasa, harga sembako pada umumnya menunjukkan peningkatan, sedikit tapi pasti. Kemudian setelah beberapa hari memasuki bulan puasa harga akan kembali normal sampai menjelang lebaran. Harga akan naik lagi seminggu menjelang lebaran. “Telur, daging ayam, bawang, sembako semua naik menjelang lebaran. Setelah lebaran, harga akan flat beberapa hari. Seminggu setelah lebaran, harga daging ayam naik lagi. Pola-pola seperti itu selalu terulang,” kata Gardjita Budi, Direktur Pemasaran Domestik, Departemen Pertanian. Namun, ini tidak berlaku untuk beras. “Karena stok kita cukup maka harga beras tidak akan mengalami gejolak sebesar sembako lainnya,” kata Ahmad Suryana, Kepala Badan Ketahanan Pangan.

Hari-hari besar lain seperti Idul Adha, Natal, dan tahun baru juga memperlihatkan perilaku serupa. “Meskipun tidak seheboh lebaran, tapi hari-hari besar lain seperti natal, tahun baru, dan Idul Adha juga memperlihatkan gejolak,” kata Gardjita.

Bukan Demand Tinggi, Tapi Ekspektasi Pasar

Kalau mengikuti hukum pasar, yang terjadi ketika demand dan supply seimbang adalah harga yang tetap. Namun, tidak demikian yang terjadi di Indonesia. Walaupun permintaan yang tinggi sudah diantisipasi dengan supply yang tinggi juga, harga tetap naik. Ada mekanisme lain di luar hukum pasar. Menurut Ahmad, hal ini dikarenakan ekspektasi pasar yang mengatakan bahwa harga harus naik ketika hari besar keagamaan. Gardjita juga mengamini hal tersebut. “Di Indonesia memang polanya seperti itu. Menjelang hari besar, harga naik 5-10% itu sudah biasa. Yang kita antisipasi adalah jangan sampai terjadi lonjakan naik atau turun yang ekstrim,” katanya.

Peningkatan harga itu mempunyai regulasi tersendiri. “Pedagang bisa memanfaatkan ekspektasi bahwa harga harus naik, tetapi sulit untuk menaikkan harga terlalu tinggi karena sektor ritel itu ketat. Banyak sekali pesaing yang lain jika harga dinaikkan lebih tinggi lagi. Para pedagang menyadari hal tersebut,” kata Gunaryo, Direktur Bina Pasar dan Distribusi, Departemen Perdagangan.

Lalu, ke mana saja larinya margin profit 5-10% tersebut? Kalau kita ambil contoh untuk harga komoditas daging sapi, harga di tingkat produsen atau peternak sapinya langsung dari minggu pertama Juli 2008 sampai minggu kedua September 2008 memang memperlihatkan peningkatan harga dengan trend 0,83% per minggu (Sumber: Dit Pasdom Deptan). Tetapi peningkatan harga ini tidak sebesar peningkatan harga di tingkat konsumen, yaitu 1,21% per minggu. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan margin profit kebanyakan diambil oleh pedagang.

Walaupun mendapat tambahan keuntungan yang lebih sedikit daripada pedagang, tapi menurut Ahmad, keadaan ini cukup memberikan angin segar bagi petani. “Ini bagus karena petani akan mendapat imbasnya dengan mendapat harga yang lebih bagus,” katanya. Dengan mempertimbangkan konsumen yang sudah siap dengan kenaikan harga dan produsen yang akan mendapatkan keuntungan lebih tinggi dari biasanya, maka pola ini bisa dikatakan baik. “Fenomena kenaikan harga ini tidak ada masalah, harus dihargai. Keadaan itu sebetulnya baik bagi ekonomi karena permintaan meningkat. Kita tidak perlu menciptakan hari-hari besar seperti valentine dan father’s day untuk menggerakkan perekonomian. Kita sudah memilikinya secara alami lewat hari-hari besar keagamaan,” kata Ahmad.

Distribusi Masih Mahal

Salah satu penyebab gejolak harga yang terjadi adalah biaya distribusi di Indonesia yang masih belum kompetitif. Menurut Gunaryo, distribusi itu paling tidak 60-70%nya terkendala dari kelancaran transportasi, yaitu infrastrukturnya. “Kita juga terkendala mengangkut produk pertanian ke daerah timur Indonesia. Waktu diantar ke sana muatannya penuh tapi ketika kembali belum tentu ada muatan. Ini yang menyebabkan disparitas harga semakin jauh,” ungkap Gunaryo. Selain itu, kita tidak bisa produksi secara masal, kita masih butuh pedagang pengumpul, pedagang wilayah, dan sebagainya. Ini yang menyebabkan harga ke konsumen menjadi tinggi.

Menurut Gardjita, biaya transportasi produk pertanian di Indonesia belum efisien. Pertama karena distribusi dari produsen ke pasar belum terintegrasi. Kedua karena masih maraknya pungutan resmi maupun tidak resmi. Pungutan resmi itu seperti retribusi yang ditetapkan oleh pemerintah Kabupaten atau Propinsi. “Memang itu hak dari pemerintah daerah untuk mendapatkan pendapatan daerahnya. Tapi hal itu berefek meningkatkan harga ketika sampai ke konsumen. Konon, biaya distribusi produk pangan di Indonesia bisa mencapai tiga belas sampai tiga puluh sekian persen dr harga di pasarnya nanti,” ungkap Gardjita. Situasi ini kemudian akan dibebankan ke konsumen. “Kalau konsumen teriak maka efeknya ke produsen juga. Ini yang selalu kita jaga. Karena bagaimanapun yang sering dirugikan adalah petani, profit marginnya petani itu semakin terdesak,” katanya.

Berarti dibutuhkan komunikasi yang baik dengan berbagai sektor seperti kementerian ekonomi dan Departemen Perhubungan untuk mengemukakan masalah tersebut. Gardjita mengaku bahwa komunikasi antar lintas sektoral maupun dengan pelaku pasar sudah lebih baik. “Hasilnya positif untuk stabilitas harga,” tutur Gardjita.

Bisa Diantisipasi

“Yang perlu diantisipasi bukanlah kenaikan harga menjelang hari besar, tapi lonjakan naik atau turun yang ekstrim,” kata Gardjita. Untuk mengatasinya, pemerintah berkoordinasi dgn pengusaha, memberikan informasi tentang pasar, dan juga memfasilitasi kebijakan-kebijakan tertentu. Di sinilah letak fungsi kontrol sosial dari masyarakat, mengawasi kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah itu.

“Informasi sudah banyak kami berikan ke masyarakat, termasuk petani. Lewat internet berbagai informasi termasuk harga sudah kami berikan. Bahkan menjelang lebaran setiap hari harga kami berikan update. Tapi memang sedikit sekali petani yang mengakses internet. Informasi lewat radio juga sudah ada, hanya saja terbatas jangkauannya. Kalau lewat televisi biayanya terlalu tinggi. Jadi, kita sering berkolaborasi lewat asosiasi-asosiasi pertanian,” kata Gardjita. Tapi terkadang petani lebih pintar, mereka lebih tau apa yang akan terjadi di pasar sehingga informasi dari luar lingkungannya seringkali hanya dijadikan tambahan saja.

“Kami memberikan informasi ke para pengusaha bahwa harga telur akan naik sekian persen sehingga akan ada antisipasi. Selain itu kami juga memfasilitasi impor daging sapi, baik bakalan maupun daging beku. Banyak juga hal lain yang kami lakukan untuk menjaga ketahanan pangan. Sektor swasta juga akan berpikir logis menanggapi pola pasar yang sudah dapat dideteksi,” tutur Ahmad.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: