PT Sarimunik Mandiri Promosikan Bumbu Asia

Bermain dengan lidah Asia. Begitulah strategi yang dijalankan PT Sarimunik Mandiri. Produknya sudah kian mudah ditemukan di supermarket dan hypermarket besar di Indonesia. Bahkan sekitar 50% dari total produksinya diekspor ke Amerika, Kanada, dan Australia. Produksinya semakin lama semakin banyak dan semakin variatif. Sejak berdirinya perusahaan ini, 14 tahun yang lalu, PT Sarimunik dengan brand Munik tetap kokoh mengedepankan bumbu tradisional Asia, tentunya dengan porsi bumbu Indonesia yang lebih banyak.

Munik adalah singkatan dari mudah dan nikmat, dua hal yang menggambarkan bagaimana produk bumbu Munik. Mudah cara memasaknya dan nikmat rasanya. Cara memasaknya memang betul-betul mudah, tidak perlu ada tambahan bumbu lagi. Tawaran kemudahan penggunaan memang sesuai dengan keinginan konsumen menengah ke atas yang dibidik oleh Sarimunik. Rasanya nikmat, terbukti dari produksi yang semakin hari semakin meningkat. Total karyawan saat ini mencapai 100 orang. Kantor bumbu Munik terletak di daerah Kayumanis, Jakarta.

36 Jenis Bumbu

Ada 36 jenis bumbu yang saat ini diproduksi oleh Sarimunik. “Jumlah sebanyak ini tidak mudah untuk kita dapatkan, ada tim RnD khusus yang mencari apa yang diinginkan konsumen. Dulu, ketika awal berdirinya PT Sarimunik, kami hanya memproduksi 12 jenis bumbu saja,” kata Novi Yulianti, Marketing & Promotion Manager. Produknya berbentuk pasta dengan masa kadaluarsa 6-8 bulan.

Bumbu instan yang ditawarkan banyak yang mengangkat masakan khas Indonesia. Yang menjadi best seller adalah bumbu sayur asam, ayam goreng, dan rendang. Munik juga menawarkan bumbu pecel, gulai ayam, nasi goring, kari kambing, opor ayam, soto betawi, dan sebagainya. Ada juga bumbu yang berasal dari masakan Thailand seperti Tom Yam, tentunya dengan sedikit sentuhan agar cocok dengan lidah orang Indonesia. “Variasi bumbu ini akan terus berkembang,” kata Novi dengan bangga. Beberapa bumbu Munik tidak bisa kita dapatkan pada produsen bumbu instan lain. Sebut saja cumi garing dan Tom Yam.

Inovasi tidak hanya dilakukan dengan memperbanyak jenis bumbu pada masakan siap saji, tapi Munik juga akan bergerak di bumbu sebelum masakan siap dinikmati. Misalnya bumbu untuk merebus ayam. “Bumbu ini kan berbeda dengan yang digunakan untuk merebus cumi. Memang produk ini belum masuk ke ritel, tapi itulah yang akan kami godok untuk ke depannya,” tutur Novi. Walaupun akan semakin banyak produk instan yang dikeluarkan, tapi bukan berarti produk Munik tidak baik untuk kesehatan. Bahan dasar yang digunakan betul-betul pilihan. “Cabai yang kami pakai dipilih yang paling segar. Bahan-bahan lain juga dipilih yang paling berkualitas. Semua alami, jadi baik untuk kesehatan,” katanya.

50% Market Share

Segmen pasar yang digarap adalah menengah ke atas. Sebagian besar produsen bumbu instan juga seperti itu. Dengan membidik segmen tersebut, Munik berhasil memegang 50% market share dari produk bumbu instan. “Market share kami 50%. Ya, memang penjualan kami cukup bagus di ritel. Semua hypermarket dan supermarket besar di Indonesia seperti Carrefour, Giant, dan Sogo pasti menjajakan produk bumbu Munik,” jelas Novi.

Produknya sudah meluas ke pasar internasional. Amerika, Kanada, Australia, dan Singapura sudah rutin mengimpor produk bumbu Munik ini. Walaupun bermain pada resep lokal, tapi ternyata bumbu Munik juga digemari orang luar. “Kira-kira setengah produksi kami diekspor ke negara-negara tersebut,” kata Novi. Kegemaran ini dimulai dari orang-orang Indonesia yang tinggal di Negara-negara tersebut. Mereka memperkenalkan cita rasa makanan Indonesia dengan bumbu Munik. Ternyata banyak yang suka dengan makanan tersebut.

Punya Restoran Sendiri

Uniknya, saat ini PT Sarimunik Mandiri mempunyai restoran sendiri, tetap dengan brand Munik. Semua bumbu hasil produksi perusahaan ini digunakan di restoran ini. Berdiri kokoh di daerah Matraman, Jakarta, restoran Munik berkembang cukup di luar dugaan. “Kami juga tidak menyangka pencapaian restoran Munik sebaik ini,” aku Novi. Pengunjungnya semakin bertambah. Dalam satu hari, saat ini restoran Munik dapat dikunjungi oleh lebih dari 150 orang, padahal usianya masih sangat muda, soft launching baru dilakukan Februari tahun ini.

Menu yang ditawarkan, selain dari hasil produk bumbu Munik, ada juga menu di luar yang ditawarkan pada bumbu. Ada empat menu andalan restoran ini, yaitu sayur asam, ayam goreng, sop buntut, dan ikan patin bakar. Menu-menu ini menggunakan bumbu dari Munik. Untuk seporsi sayur asam, restoran Munik membandrol harga Rp 8000. “Hampir semua customer kami tidak melewatkan sayur asam. Rasanya memang patut kami banggakan,” tutur Novi. Minuman andalan restoran Munik adalah es kabayan. Permintaan es kabayan juga cukup banyak. Selain makan di tempat, Munik juga menyediakan layanan pesan antar tanpa pemesanan minimal.

Restoran buka setiap hari. Munik memang menargetkan hidangannya untuk makan siang dan malam. Jam bukanya dari pukul 11 sampai pukul 22. Ada dua lantai yang dijadikan tempat makan. Sedangkan tiga lantai lagi digunakan untuk manajemen.

Selain untuk tempat makan, ternyata restoran Munik juga sering digunakan untuk tempat gathering atau meeting. Bahkan sudah lima kali selama 7 bulan sejak restoran berdiri, diadakan pesta pernikahan di tempat ini. Memang restoran ini dilengkapi banyak fasilitas yang mempermudah hal tersebut, terlebih lagi basic awalnya adalah restoran.

Ada lima ruangan di dalam restoran ini yang bisa dijadikan tempat pertemuan. Tiga ruang VIP, satu ruang Sultan, dan satu Permaisuri. Untuk ruang VIP dengan kapasitas 10-30 orang ditarik biaya sewa sebesar 40 ribu/jam, Permaisuri dengan kapasitas 15-20 orang sebesar 120 ribu/jam, dan Sultan 150 ribu/jam untuk 25-30 orang.

Untuk ke depannya, sesuai permintaan pasar, restoran Munik akan memperbesar restorannya dengan mengaktifkan lahan di belakang restoran dengan konsep lesehan. “Lahan tersebut sekarang sedang direnovasi,” kata Novi. Kalau sudah rampung, kapasitas total restoran akan menjadi 450 orang, angka yang cukup besar untuk restoran berumur 7 bulan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: