Sapi Potong Layak Digenjot

Indonesia sampai saat ini masih terus mengimpor daging sapi beserta jeroannya dengan jumlah yang semakin bertambah setiap tahun. Bertambahnya jumlah penduduk dan pendapatan akan semakin meningkatkan kesadaran akan pentingnya mengonsumsi pangan bernilai gizi tinggi, termasuk daging sapi. Status sapi Indonesia yang bebas PMK sebetulnya dapat dijadikan pijakan kuat untuk menggenjot komoditas sapi potong.

Sebelum era 80an, peternakan sapi potong di Indonesia bisa dikatakan hanya bergerak secara tradisional. Ternak sapi hanya dijadikan tabungan berjalan yang siap diuangkan sewaktu-waktu.

Menginjak era 80an, industri peternakan sapi potong mulai berkembang, azaz efisiensi sudah mulai muncul. Usaha feedlot (penggemukan) sudah mulai dikembangkan. Namun, usaha feedlot tidak semulus yang diharapkan karena sulitnya pasokan sapi bakalan dari dalam negeri. Mulai dari titik ini para produsen lokal mengimpor sapi bakalan dari Australia. Pada akhir era 80an, usaha penggemukan sapi berkembang dengan pesat.

Usaha feedlot mengalami guncangan ketika krisis moneter mendera Indonesia pada akhir 1997. Paling tidak 50 investor dalam industri penggemukan sapi menelan pil pahit pada masa ini.

Memasuki tahun 2001, usaha penggemukan sapi bergeliat kembali. ”Sekarang, keadaannya menjadi sama seperti sebelum krisis moneter mendera, terlihat dari jumlah sapi bakalan yang diimpor,” kata Teguh Boediyana, Sekjen Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI).

Komoditas

2005

2006

2007*

Populasi (ekor)

10.569.312

10.875.125

11.365.873

Pemotongan (ekor)

1.653.770

1.799.781

1.920.167

Impor Bakalan (ekor)

323.916

363.443

496.368

Produksi Daging (ribu ton)

358,7

395,8

418,2

Impor Bibit (ekor)

636

2.108

6.079

Ekspor (ekor)

0

0

4.000*

Patut Bangga

Sampai saat ini, Indonesia merupakan satu diantara 57 negara bebas Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Sejak tahun 1990, Indonesia dinyatakan bebas PMK. PMK bisa dikatakan menjadi penyakit paling ditakuti dan berbahaya karena daya penularannya yang cepat dan juga sangat merugikan secara ekonomis. Oleh karena itu kita sepatutnya bangga akan status tersebut. ”Hal ini merupakan kebanggaan nasional yang harus dipertahankan oleh generasi penerus,” kata Soehadji, mantan Dirjen Peternakan periode 1988-1996.

Tingginya harga daging sapi di Indonesia menjadi konsekuensi akibat bebasnya sapi Indonesia dari PMK. Ini harga yang jauh lebih murah dibanding konsekuensi ketika negara terkena PMK. Nilai kerugian selama terjadi wabah PMK di Indonesia mencapai 11,6 triliun.

Bertahan Karena Status Sosial Tinggi

Peternak sapi potong di Indonesia saat ini sebagian besar adalah pemain kecil yang hanya mempunyai 2-3 sapi saja. Jika dihitung-hitung, jelas usaha seperti ini merugikan. Tapi ada satu hal yang masih meggiurkan bagi masyarakat, yaitu anggapan bahwa orang yang memiliki sapi berarti status sosialnya tinggi. ”Peternak sapi sebagian besar hanya untuk status sosial, istilahnya rojo koyo. Sebetulnya ini yang menjadi sendi-sendi peternakan sapi potong di Indonesia,” kata Rochadi Tawaf, Dewan Pakar Asosiasi Produsen Daging dan Feedlot Indonesia (Apfindo).

Usaha sapi potong termasuk usaha jangka panjang sehingga dibutuhkan modal yang tidak sedikit. Usaha pemerintah yang akan menyediakan dana untuk menyubsidi bunga dalam usaha breeding sapi adalah langkah yang patut diacungi jempol. Namun, keputusan tersebut perlu dipantau agar betul-betul terealisasi. ”Perlu pula dipertimbangkan bahwa keringanan bukan hanya dari bunga bank, tetapi jangka waktu kredit dan grace period harus dipertimbangkan secara cermat,” jelas Teguh.

Sapi Lokal Digemari

Walaupun tidak berbeda jauh, harga daging sapi lokal saat ini masih lebih tinggi dibandingkan harga daging sapi impor. Menurut Teguh, hal ini mengindikasikan bahwa konsumen Indonesia lebih menyukai daging lokal daripada daging impor. ”Masyarakat merasa tastenya lebih cocok dengan daging lokal,” katanya.

Memang, Indonesia saat ini mengimpor sapi, dalam bentuk sapi bakalan maupun daging dan jeroannya, tapi ini dikarenakan kebutuhan dalam negeri yang masih belum tercukupi oleh produksi. Jadi, bisa dikatakan bahwa Indonesia terpaksa impor.

Sayangnya, terjadi ketidakseimbangan yang semakin melebar antara kemampuan produksi dengan percepatan permintaan dari masyarakat. Kejadian ini akan membuka peluang impor (sapi dan daging sapi) yang semakin lebar.

Manurut Teguh, impor sapi ke Indonesia sekarang dalam bentuk sapi bakalan dan daging beku. Kebijakan pemerintah untuk impor daging beku hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumen kelas menengah ke atas. ”Di tempat-tempat tertentu ada steak yang harganya mencapai jutaan. Tapi tetap ada konsumen yang menyukainya. Bahan daging sapi beku berkualitas baik itu kita dapat dari impor,” tutur Teguh.

Beberapa negara pemasok daging sapi dan jeroannya ke Indonesia yaitu Australia, New Zealand, Amerika Serikat, dan Kanada. Beberapa negara lain telah berusaha keras menembus pasar Indonesia, di antaranya India, Brazil, Uruguay, dan Argentina. Pemerintah memang ketat sekali dalam melakukan impor sapi potong, hanya negara bebas PMK yang boleh mengekspor sapinya ke Indonesia.

Swasembada 2010 Sulit Dicapai

Program swasembada daging sapi bisa dikatakan hanya terdengar di Deptan dan sekitarnya. ”Sejak tiga tahun lalu hingga kini masih sekedar diskusi dan wacana saja,” kata Rochadi. Seharusnya ini menjadi program kita bersama untuk dapat memenuhi kebutuhan minimal protein hewani asal daging dengan target 10,1 kg/kapita/tahun yang saat ini baru dicapai sebesar 7 kg/kapita/tahun. Sedangkan kontribusi daging sapi baru mencapai 1,72 kg/kapita/tahun. Program ini mengharapkan kontribusi daging sapi akan dicapai sebesar 2 kg/kapita/tahun pada 2010.

Peningkatan populasi sapi yang dijadikan target pada program ini sebesar 1,55 juta ekor sapi dari populasi saat ini, yaitu sebesar 11,23 juta ekor sapi. Ada tujuh langkah operasional yang difokuskan di 18 provinsi yang akan dilaksanakan pada 2008-2010.

Namun, Tim Indonesian Veterinary Watch dalam laporannya mengatakan bahwa data dan pengamatan lapangan mengindikasikan bahwa Rencana Percepatan Pencapaian Swasembada Daging Sapi 2010 masih belum dapat dicapai sebagaimana yang ditargetkan. Maka dari itu, Indonesia diprediksi masih akan terus mengimpor daging sapi paling tidak sampai tahun 2015.

Menurut Soehadji, untuk memenuhi kebutuhan daging nasional, kita perlu tetap menggerakkan prisnsip bahwa peternakan rakyat harus tetap menjadi tulang punggung, penggemukan sapi dengan sapi bakalan impor hanya dijadikan pendukung dan impor daging hanya untuk memenuhi kekurangan permintaan. Selain itu, program swasembada daging perlu dilanjutkan secara konsisten serta digaungkan dalam kaitannya dengan Program Kebutuhan Pangan Hewani Nasional yang didukung oleh pemerintah dan masyarakat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: