Melati Cukup Menjanjikan

prospeknya sewangi bunganya

prospeknya sewangi bunganya

Melati merupakan salah satu komoditas bernilai ekonomi tinggi yang dikenal sejak lama di Indonesia sebagai bunga hiasan pengantin pada pesta-pesta pernikahan. Melati juga digunakan sebagai campuran teh untuk mendapatkan aroma yang sedap. Selain itu, juga sebagai bunga tabur, bahan industri minyak wangi, kosmetika, parfum, dan farmasi. Jenis melati yang sering dibudidayakan adalah Jasmine sambac atau melati putih dan Jasmine officinalle atau melati gambir.

Produksi

Di Indonesia sendiri, produksi melati terbesar ada di Jawa Tengah yang terkonsentrasi di daerah Tegal, Batang, Pekalongan, Pemalang, dan Purbalingga.

Data statistik pertanian 2006 komoditas Melati

Tahun

Luas Lahan (m2)

produksi (ton)

2001

11000

20000

2002

14250

18000

2003

12500

16000

2004

10000

29000

2005

9250

23000

Produksi melati masih sangat bergantung pada musim. Produksi di Jawa Tengah pada musim kemarau antara 5-10 kg/Ha/hari sedangkan pada musim hujan dapat mencapai 300-1000 kg/Ha/hari.

Melati yang siap panen adalah yang ukuran kuntum bunganya besar dan masih kuncup atau setengah mekar. Hasil panen bunga melati terlihat pada umur 7-12 bulan. Panennya dapat dilakukan sepanjang tahun selama 5-10 tahun. Hasil panen melati terbanyak berkisar antara 1-2 minggu. Setelah itu hasil panen menurun dan dua bulan kemudian meningkat lagi.

Pasar

Pasar melati yang terbesar di Indonesia untuk hiasan pengantin adalah di pasar bunga Rawa Belong, Jakarta Barat. Semua permintaan melati dari Jabodetabek berakhir di pasar ini. Tidak jarang pasar ini kewalahan menerima permintaan yang melebihi produksi mereka.

Setiap harinya, Toyo, seorang distributor dari Tegal yang berjualan melati di pasar Rawa Belong, membeli ke pengepul di Tegal dalam bentuk yang masih kotor. Anak buahnya sebanyak 25 orang memprosesnya sehingga siap dikirimkan ke Jakarta. Setiap hari, rata-rata Toyo mendapat kiriman sekitar 12 boks yang isi tiap boksnya 8-10 kg. Dalam tiap boks, melati dibagi-bagi lagi dalam puluhan plastik-plastik kecil yang dibaluri dengan pecahan-pecahan es untuk menjaga kesegaran dan warna putihnya.

Toyo menguasai pasaran melati di Jabodetabek. Bahkan, ia menerima pesanan rutin dari Kalimantan Timur dan beberapa kali dari Irian, Lampung, dan Palembang. Omzetnya sekitar 30 juta sebulan. Hampir seluruh pembelinya menggunakan melati untuk dironce sebagai hiasan pengantin. Di daerah Rawa Belong sendiri, ada 21 unit usaha roncean melati. Beberapa unit lagi ada di Jatinegara, Tanah Abang, dan Bogor. Setiap unit melibatkan sekitar tiga keluarga untuk memproses bunga-bunga melati ini menjadi roncean-roncean yang indah.

Permintaan melati sebagai hiasan pengantin melonjak jauh ketika bulan haji dalam kalender islam dan turun drastis pada bulan ramadhan. Dalam satu minggu, permintaan melati paling banyak adalah hari Sabtu dan Minggu karena banyak pesta pernikahan di hari ini.

Selain dengan cara penjualan konvensional seperti di atas, pemasaran melati juga sudah dilakukan dengan e-commerce, pengiriman dapat dilakukan dengan beberapa cara pengemasan tergantung permintaan dan melibatkan perusahaan jasa pengiriman. Namun, jumlah pengguna e-commerce masih sedikit. Salah seorang pemasar melati dengan e-commerce mengaku hanya menjual rata-rata 1 boks per minggu, jauh berbeda dengan Toyo yang bisa menjual 70 boks per minggu.

Selain merajai pasaran dalam negeri sendiri, melati dari Indonesia juga sudah masuk pasaran dunia. Seorang eksportir melati mengaku dapat mengirimkan ratusan boks setiap minggunya ke Singapura, India, dan Thailand. Pemakaian di negara-negara ini biasanya hanya untuk sesaji atau keagamaan. Ekspor melati ini sudah berlangsung sejak 1990-an.

Minyak Melati

Minyak bunga melati juga mempunyai prospek yang bagus untuk dikembangkan. Bisnis wewangian sudah sering menggunakan melati sebagai bahan dasarnya. Harganya di pasar internasional termasuk tinggi, yaitu mencapai US$ 5000 per liter. Di Indonesia sendiri, minyak atsiri yang dipergunakan untuk industri parfum, kosmetik, dan sabun masih impor. Produsen minyak melati dunia adalah Italia, Perancis, Maroko, Mesir, Cina, Turki, dan India. Untuk produksi dari India sendiri, ekstraksi melati gambir menghasilkan concentrate sebesar 0,28%. Jika diproses lebih lanjut, akan diperoleh minyak sekitar setengahnya.

Sebetulnya Indonesia sudah mampu untuk mengolah bunga melati menjadi minyak. Beberapa peneliti Indonesia juga sudah mengetahui beberapa metodenya. Hanya saja, proses pengolahannya belum terlalu dikenal masyarakat. Lapangan kerja tambahan akan terbuka lebar bagi pelaku pascapanen melati yang sebagian besar sampai sekarang hanya sebatas melakukan panen dan mengangkutnya ke pabrik teh. Usaha ini tentunya akan menambah pendapatan daerah setempat terutama daerah penghasil melati. Tetapi, diperlukan kajian teknologi dan kelayakan finansial pada skala yang lebih besar dengan melibatkan elemen terkait, seperti petani, mitra swasta, dan pemerintah daerah untuk memulai bisnis ini agar dapat berjalan dengan baik.

Potensial

Bisnis melati cukup menjanjikan dengan peluang pasar yang bagus. Nilai ekonominya akan semakin tinggi karena dibutuhkan dalam kehidupan modern sebagai campuran teh, pewangi sabun, bahan baku industri minyak wangi, aromaterapi, kosmetik, cat, tinta, karbol, semir sepatu, dan pestisida. Pasar potensial untuk ekspor melati adalah Hongkong, Taiwan, Jepang, Korea, Thailand, Singapura, dan India. Di Indonesia sendiri, untuk keperluan bunga tabur saja dibutuhkan 600 kg bunga melati setiap harinya. Permintaan melati sebagai campuran teh menyerap konsumsi melati terbesar, yaitu 2-6 ton per hari, dan akan semakin besar mengingat permintaan teh beraroma melati meningkat. Saat ini, tidak sulit menemukan spa yang menggunakan melati setelah didapatkan minyak atsirinya.

Produksi bunga melati Indonesia baru mampu memenuhi sekitar 2% dari kebutuhan bunga melati di dunia. Indonesia memiliki potensi untuk mendapatkan pasar melati dunia lebih dari itu mengingat potensi sumber daya lahan Indonesia amat luas dan agroekologinya cocok untuk bertani melati. Sebuah hasil penelitian dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura di daerah setrum produksi Tegal menyimpulkan bahwa usaha tani melati menguntungkan dan baik untuk dikembangkan.

3 Comments »

  1. saleh rais said

    Hi,
    I need information concerning selling (direct to importers) Jasmine Oil; we are going to produce Jasmine Oil using CO2 Supercritical Method.
    So, could you give me some local and abroad companies which are want to buy jasmine oil and we are ready to supply them sample.

    Thank much and best regards

  2. allaboutagro said

    Maaf Pak Rais, data-data potential market di atas saya dapat dari beberapa artikel dan data pemerintah. Saya belum kenal dengan pembelinya langsung. Mungkin bapak bisa menghubungi BPEN, Tel : (62-21) 3858 171. Banyak eksportir Indonesia yang mulai mencari pasarnya dengan menjalin hubungan ke BPEN.

  3. chaerul said

    Selamat malam,
    Sangat menarik membaca comment pak saleh mengenai proses minyak melati dengan supercritical CO2 method, salut pak, karena yg saya tahu itu butuh investasi dan cost yang besar. mengenai eksportir minyak melati, saya ada beberapa contact yang mungkin dapat membantu. silahkan PM ke email saya mammooo3kali-agriculture@yahoo.com

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: