PT Sarimunik Mandiri Promosikan Bumbu Asia

Bermain dengan lidah Asia. Begitulah strategi yang dijalankan PT Sarimunik Mandiri. Produknya sudah kian mudah ditemukan di supermarket dan hypermarket besar di Indonesia. Bahkan sekitar 50% dari total produksinya diekspor ke Amerika, Kanada, dan Australia. Produksinya semakin lama semakin banyak dan semakin variatif. Sejak berdirinya perusahaan ini, 14 tahun yang lalu, PT Sarimunik dengan brand Munik tetap kokoh mengedepankan bumbu tradisional Asia, tentunya dengan porsi bumbu Indonesia yang lebih banyak.

Munik adalah singkatan dari mudah dan nikmat, dua hal yang menggambarkan bagaimana produk bumbu Munik. Mudah cara memasaknya dan nikmat rasanya. Cara memasaknya memang betul-betul mudah, tidak perlu ada tambahan bumbu lagi. Tawaran kemudahan penggunaan memang sesuai dengan keinginan konsumen menengah ke atas yang dibidik oleh Sarimunik. Rasanya nikmat, terbukti dari produksi yang semakin hari semakin meningkat. Total karyawan saat ini mencapai 100 orang. Kantor bumbu Munik terletak di daerah Kayumanis, Jakarta.

36 Jenis Bumbu

Ada 36 jenis bumbu yang saat ini diproduksi oleh Sarimunik. “Jumlah sebanyak ini tidak mudah untuk kita dapatkan, ada tim RnD khusus yang mencari apa yang diinginkan konsumen. Dulu, ketika awal berdirinya PT Sarimunik, kami hanya memproduksi 12 jenis bumbu saja,” kata Novi Yulianti, Marketing & Promotion Manager. Produknya berbentuk pasta dengan masa kadaluarsa 6-8 bulan.

Bumbu instan yang ditawarkan banyak yang mengangkat masakan khas Indonesia. Yang menjadi best seller adalah bumbu sayur asam, ayam goreng, dan rendang. Munik juga menawarkan bumbu pecel, gulai ayam, nasi goring, kari kambing, opor ayam, soto betawi, dan sebagainya. Ada juga bumbu yang berasal dari masakan Thailand seperti Tom Yam, tentunya dengan sedikit sentuhan agar cocok dengan lidah orang Indonesia. “Variasi bumbu ini akan terus berkembang,” kata Novi dengan bangga. Beberapa bumbu Munik tidak bisa kita dapatkan pada produsen bumbu instan lain. Sebut saja cumi garing dan Tom Yam.

Inovasi tidak hanya dilakukan dengan memperbanyak jenis bumbu pada masakan siap saji, tapi Munik juga akan bergerak di bumbu sebelum masakan siap dinikmati. Misalnya bumbu untuk merebus ayam. “Bumbu ini kan berbeda dengan yang digunakan untuk merebus cumi. Memang produk ini belum masuk ke ritel, tapi itulah yang akan kami godok untuk ke depannya,” tutur Novi. Walaupun akan semakin banyak produk instan yang dikeluarkan, tapi bukan berarti produk Munik tidak baik untuk kesehatan. Bahan dasar yang digunakan betul-betul pilihan. “Cabai yang kami pakai dipilih yang paling segar. Bahan-bahan lain juga dipilih yang paling berkualitas. Semua alami, jadi baik untuk kesehatan,” katanya.

50% Market Share

Segmen pasar yang digarap adalah menengah ke atas. Sebagian besar produsen bumbu instan juga seperti itu. Dengan membidik segmen tersebut, Munik berhasil memegang 50% market share dari produk bumbu instan. “Market share kami 50%. Ya, memang penjualan kami cukup bagus di ritel. Semua hypermarket dan supermarket besar di Indonesia seperti Carrefour, Giant, dan Sogo pasti menjajakan produk bumbu Munik,” jelas Novi.

Produknya sudah meluas ke pasar internasional. Amerika, Kanada, Australia, dan Singapura sudah rutin mengimpor produk bumbu Munik ini. Walaupun bermain pada resep lokal, tapi ternyata bumbu Munik juga digemari orang luar. “Kira-kira setengah produksi kami diekspor ke negara-negara tersebut,” kata Novi. Kegemaran ini dimulai dari orang-orang Indonesia yang tinggal di Negara-negara tersebut. Mereka memperkenalkan cita rasa makanan Indonesia dengan bumbu Munik. Ternyata banyak yang suka dengan makanan tersebut.

Punya Restoran Sendiri

Uniknya, saat ini PT Sarimunik Mandiri mempunyai restoran sendiri, tetap dengan brand Munik. Semua bumbu hasil produksi perusahaan ini digunakan di restoran ini. Berdiri kokoh di daerah Matraman, Jakarta, restoran Munik berkembang cukup di luar dugaan. “Kami juga tidak menyangka pencapaian restoran Munik sebaik ini,” aku Novi. Pengunjungnya semakin bertambah. Dalam satu hari, saat ini restoran Munik dapat dikunjungi oleh lebih dari 150 orang, padahal usianya masih sangat muda, soft launching baru dilakukan Februari tahun ini.

Menu yang ditawarkan, selain dari hasil produk bumbu Munik, ada juga menu di luar yang ditawarkan pada bumbu. Ada empat menu andalan restoran ini, yaitu sayur asam, ayam goreng, sop buntut, dan ikan patin bakar. Menu-menu ini menggunakan bumbu dari Munik. Untuk seporsi sayur asam, restoran Munik membandrol harga Rp 8000. “Hampir semua customer kami tidak melewatkan sayur asam. Rasanya memang patut kami banggakan,” tutur Novi. Minuman andalan restoran Munik adalah es kabayan. Permintaan es kabayan juga cukup banyak. Selain makan di tempat, Munik juga menyediakan layanan pesan antar tanpa pemesanan minimal.

Restoran buka setiap hari. Munik memang menargetkan hidangannya untuk makan siang dan malam. Jam bukanya dari pukul 11 sampai pukul 22. Ada dua lantai yang dijadikan tempat makan. Sedangkan tiga lantai lagi digunakan untuk manajemen.

Selain untuk tempat makan, ternyata restoran Munik juga sering digunakan untuk tempat gathering atau meeting. Bahkan sudah lima kali selama 7 bulan sejak restoran berdiri, diadakan pesta pernikahan di tempat ini. Memang restoran ini dilengkapi banyak fasilitas yang mempermudah hal tersebut, terlebih lagi basic awalnya adalah restoran.

Ada lima ruangan di dalam restoran ini yang bisa dijadikan tempat pertemuan. Tiga ruang VIP, satu ruang Sultan, dan satu Permaisuri. Untuk ruang VIP dengan kapasitas 10-30 orang ditarik biaya sewa sebesar 40 ribu/jam, Permaisuri dengan kapasitas 15-20 orang sebesar 120 ribu/jam, dan Sultan 150 ribu/jam untuk 25-30 orang.

Untuk ke depannya, sesuai permintaan pasar, restoran Munik akan memperbesar restorannya dengan mengaktifkan lahan di belakang restoran dengan konsep lesehan. “Lahan tersebut sekarang sedang direnovasi,” kata Novi. Kalau sudah rampung, kapasitas total restoran akan menjadi 450 orang, angka yang cukup besar untuk restoran berumur 7 bulan.

Leave a Comment

Parung Farm Konsisten dengan Hidroponik dan Aeroponik

Dikatakan bahwa Indonesia adalah negara agraris. Namun, sayangnya teknologi untuk memajukan pertanian kita masih lesu. Teknologi yang ada pun sulit berkolaborasi dengan pemain yang ada di lapangan. Tapi Parung Farm mencoba untuk memulainya dengan segenap tenaga yang dimilikinya. Try and Error masih sering terjadi sejak 15 tahun yang lalu. Walaupun demikian, sekarang bisa dikatakan bahwa Parung Farm adalah produsen sayur dan buah terbesar dan terbaik di Indonesia dengan metode hidroponik dan aeroponik.

Parung Farm merupakan sebuah brand yang diusung oleh PT Kebun Sayur Segar yang berdiri sejak tahun 2003. Produknya terbagi menjadi tiga golongan, yaitu selada, non selada (Caism, bayam hijau dan merah, pak-choi hijau dan putih, kangkung, petsay, dan kalian), dan tomat. Semua produk ini sudah tersebar di semua supermarket dan hypermarket seperti Carrefour, Giant, Hypermart, Makro, Hero, dan masih banyak lagi.

Investasi tinggi memang menjadi kelemahan dari metode hidroponik dan aeroponik. Namun, banyak kelebihan yang dapat diambil dari situ. Metode ini mempunyai produktivitas yang jauh lebih tinggi dibandingkan metode konvensional di tanah. “Produktivitas kita hampir tiga kali lipat lebih tinggi dibanding menanam di tanah,” kata Matius Aritonang, President Director PT Kebun Sayur Segar. Belum lagi kalau kita berbicara tentang stabilitas. Faktor yang harus dikendalikan pada metode ini lebih sedikit. “Kita hanya melakukan treatment air yang betul-betul harus dijaga komposisi dan pH nya. Tidak perlu memikirkan tanah yang ada seperti apa,” jelas Matius. Kalau faktor alam memang masih sulit sekali ditanggulangi sampai saat ini. “Di kebun saya pernah kejadian tiba-tiba ada angin topan, semuanya hancur. Ini yang tidak bisa diprediksi dan sulit sekali ditanggulangi,” katanya.

Air yang digunakan di Parung Farm sedemikian rupa diatur sampai standarnya sama dengan air minum manusia. Ada sebuah tempat penampungan air khusus yang digunakan untuk treatment air tersebut. Air yang sudah digunakan juga dikembalikan ke tempat penampungan khusus itu untuk dimodifikasi dan digunakan kembali. Pengaturan seperti ini tidak akan mengganggu lingkungan. Hidroponik dan aeroponik memang tidak membantu memulihkan lingkungan seperti budidaya tanaman organic tetapi juga tidak merusak lingkungan karena tidak ada residu yang dibuang ke lingkungan.

Tidak Ada Off Season

Karena lebih mudah diatur, maka produk-produk Parung Farm menghasilkan kuantitas, kualitas, dan kontinuitas yang stabil. Jumlah produksinya tidak naik turun, tetapi selalu meningkat secara perlahan. Kualitas produknya tidak berubah-ubah, metode persemaian sampai pengemasan dilakukan dengan suatu mekanisme yang stabil. Pengemasan dengan plastik membuat produk Parung Farm bisa tahan paling tidak sampai tiga hari. “Produk kami selalu segar karena setelah panen, produk langsung dikemas kemudian dikirim dengan mobil box dengan pendingin khusus ke supermarket, restoran, dan café,” jelas Matius. Musim apapun, produk Parung Farm selalu tersedia di swalayan. Harganya juga selalu stabil. Untuk produk kangkung, pak-choi, bayam, dan selada dari Parung Farm, Giant menjual dengan harga sama, yaitu Rp11.900 per 250g.

Parung Farm selalu menampilkan sayuran yang crispy, lebih renyah dari sayuran yang ditanam di tanah. Ini bisa dijelaskan karena suplai air yang dibutuhkan selalu tercukupi dengan metode hidroponik. Sayuran tidak perlu membentuk lapisan lilin yang tebal untuk mengurangi penguapan. Sehingga semua produknya akan selalu renyah. Waktu pemasakan juga akan semakin singkat karena kerenyahan ini.

Kestabilan itu yang menjadi salah satu penyebab jumlah peminat produk Parung Farm terus meningkat, tentunya dari segmen masyarakat ekonomi menengah ke atas. Apalagi, kesadaran makan makanan sehat semakin meningkat saja di masyarakat.

Untuk mengakomodir peningkatan permintaan tersebut, Parung Farm memperluas lahan budidayanya menjadi sekitar 10 Ha yang terbagi ke tiga tempat, yaitu parung, puncak, dan cianjur. Kebun di daerah puncak diperuntukkan bagi tanaman sayuran dataran tinggi seperti berbagai jenis selada dan tomat, sedangkan kebun di parung untuk tanaman sayuran dataran rendah seperti bayam dan kangkung. Jumlah karyawannya saat ini tidak kurang dari 100 orang. Dengan peningkatan permintaan, tentunya akan semakin banyak lagi karyawan dan lahan yang akan digarap.

95% Bagian Dapat Dikonsumsi

Hampir semua sayuran-sayuran Parung Farm dapat dikonsumsi. “Produk kami dapat dikonsumsi sampai 95% bagiannya. Hanya akarnya saja yang tidak dapat dikonsumsi. Ini berbeda jauh dari sayuran konvensional yang mungkin hanya dapat dikonsumsi separuhnya saja,” tutur Matius.

Pencapaian tersebut tidak lepas dari hasil penelitian-penelitian yang dilakukan Parung Farm. Bisa dikatakan bahwa Parung Farm merupakan open company bagi mahasiswa yang ingin melakukan penelitian tentang hidroponik dan aeroponik. “Kami sangat terbuka bagi mahasiswa yang ingin melakukan penelitian di kebun kami. Ada dari hasil penelitian mereka yang dapat kami aplikasikan. Atau terkadang masukan dan kritikan mereka juga cukup brilliant untuk kami tindak lanjuti,” kata Matius. “Perbaikan akan terus kami lakukan untuk meningkatkan produktivitas dengan kualitas yang juga semakin baik.”

Merambah ke Organik

Beberapa tahun terakhir, Parung Farm sudah mengeluarkan produk organik. “Kami melakukannya karena ada permintaan produk organik. Selain itu, membudidayakan produk organik masih sesuai dengan tujuan kami, yaitu mendapatkan makanan sehat dan segar. Tapi ini pun hanya dialakukan secara kemitraan dengan petani sayuran organic di sekitar kebun kami. Kami tetap fokus di jalur kami, yaitu hidroponik dan aeroponik,” kata Matius. Parung Farm saat ini sedang mencoba menanam sayuran organik dengan menggunakan teknologi hidroponik. Ini merupakan tindak lanjut dari sebuah riset yang dilakukan seorang mahasiswa IPB yang dilakukan di kebun Parung farm.

Berbagai inovasi selalu dilakukan Parung Farm untuk merespon pasar yang ada. Selain sayur dan buah organik, Parung Farm juga terus mengembangkan komoditas lain pada hortikultura untuk dibudidayakan dengan metode hidroponik dan aeroponik. “Produk-produk baru ini akan kami lepas sesuai mekanisme pasar. Ketika permintaan pasar meningkat maka akan kami tingkatkan juga produksinya. Tapi kalau pasar tidak berminat, terpaksa kami stop memproduksi komoditi tersebut, ungkap Matius.

Parung Farm juga selalu mengadakan kunjungan terbuka untuk mendidik masyarakat agar tidak buta dengan hidroponik dan aeroponik. Banyak sekolah internasional yang berkunjung ke kebun Parung Farm di Parung. Ada juga pelatihan yang dilakukan untuk umur pra pensiun. “Dengan belajar hal-hal dinamis seperti hidroponik ini, orang-orang yang sudah tua menjadi tidak cepat pikun dan juga menghasilkan,” katanya.

Leave a Comment

Sembako Selalu Bergejolak di Hari Besar

Setiap tahun, ketika mendekati hari-hari besar keagamaan, para pedagang seakan telah membuat suatu kesepakatan tak tertulis untuk menaikkan harga bahan makanan, baik hulu maupun hilir. Masyarakat juga seakan terbius dengan kebiasaan tersebut sehingga menganggap itu merupakan suatu kewajaran yang setiap tahun terjadi. Sebetulnya, bagaimana ini bisa terjadi?

Seperti yang terjadi lima tahun terakhir ini, setiap menjelang bulan puasa, harga sembako pada umumnya menunjukkan peningkatan, sedikit tapi pasti. Kemudian setelah beberapa hari memasuki bulan puasa harga akan kembali normal sampai menjelang lebaran. Harga akan naik lagi seminggu menjelang lebaran. “Telur, daging ayam, bawang, sembako semua naik menjelang lebaran. Setelah lebaran, harga akan flat beberapa hari. Seminggu setelah lebaran, harga daging ayam naik lagi. Pola-pola seperti itu selalu terulang,” kata Gardjita Budi, Direktur Pemasaran Domestik, Departemen Pertanian. Namun, ini tidak berlaku untuk beras. “Karena stok kita cukup maka harga beras tidak akan mengalami gejolak sebesar sembako lainnya,” kata Ahmad Suryana, Kepala Badan Ketahanan Pangan.

Hari-hari besar lain seperti Idul Adha, Natal, dan tahun baru juga memperlihatkan perilaku serupa. “Meskipun tidak seheboh lebaran, tapi hari-hari besar lain seperti natal, tahun baru, dan Idul Adha juga memperlihatkan gejolak,” kata Gardjita.

Bukan Demand Tinggi, Tapi Ekspektasi Pasar

Kalau mengikuti hukum pasar, yang terjadi ketika demand dan supply seimbang adalah harga yang tetap. Namun, tidak demikian yang terjadi di Indonesia. Walaupun permintaan yang tinggi sudah diantisipasi dengan supply yang tinggi juga, harga tetap naik. Ada mekanisme lain di luar hukum pasar. Menurut Ahmad, hal ini dikarenakan ekspektasi pasar yang mengatakan bahwa harga harus naik ketika hari besar keagamaan. Gardjita juga mengamini hal tersebut. “Di Indonesia memang polanya seperti itu. Menjelang hari besar, harga naik 5-10% itu sudah biasa. Yang kita antisipasi adalah jangan sampai terjadi lonjakan naik atau turun yang ekstrim,” katanya.

Peningkatan harga itu mempunyai regulasi tersendiri. “Pedagang bisa memanfaatkan ekspektasi bahwa harga harus naik, tetapi sulit untuk menaikkan harga terlalu tinggi karena sektor ritel itu ketat. Banyak sekali pesaing yang lain jika harga dinaikkan lebih tinggi lagi. Para pedagang menyadari hal tersebut,” kata Gunaryo, Direktur Bina Pasar dan Distribusi, Departemen Perdagangan.

Lalu, ke mana saja larinya margin profit 5-10% tersebut? Kalau kita ambil contoh untuk harga komoditas daging sapi, harga di tingkat produsen atau peternak sapinya langsung dari minggu pertama Juli 2008 sampai minggu kedua September 2008 memang memperlihatkan peningkatan harga dengan trend 0,83% per minggu (Sumber: Dit Pasdom Deptan). Tetapi peningkatan harga ini tidak sebesar peningkatan harga di tingkat konsumen, yaitu 1,21% per minggu. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan margin profit kebanyakan diambil oleh pedagang.

Walaupun mendapat tambahan keuntungan yang lebih sedikit daripada pedagang, tapi menurut Ahmad, keadaan ini cukup memberikan angin segar bagi petani. “Ini bagus karena petani akan mendapat imbasnya dengan mendapat harga yang lebih bagus,” katanya. Dengan mempertimbangkan konsumen yang sudah siap dengan kenaikan harga dan produsen yang akan mendapatkan keuntungan lebih tinggi dari biasanya, maka pola ini bisa dikatakan baik. “Fenomena kenaikan harga ini tidak ada masalah, harus dihargai. Keadaan itu sebetulnya baik bagi ekonomi karena permintaan meningkat. Kita tidak perlu menciptakan hari-hari besar seperti valentine dan father’s day untuk menggerakkan perekonomian. Kita sudah memilikinya secara alami lewat hari-hari besar keagamaan,” kata Ahmad.

Distribusi Masih Mahal

Salah satu penyebab gejolak harga yang terjadi adalah biaya distribusi di Indonesia yang masih belum kompetitif. Menurut Gunaryo, distribusi itu paling tidak 60-70%nya terkendala dari kelancaran transportasi, yaitu infrastrukturnya. “Kita juga terkendala mengangkut produk pertanian ke daerah timur Indonesia. Waktu diantar ke sana muatannya penuh tapi ketika kembali belum tentu ada muatan. Ini yang menyebabkan disparitas harga semakin jauh,” ungkap Gunaryo. Selain itu, kita tidak bisa produksi secara masal, kita masih butuh pedagang pengumpul, pedagang wilayah, dan sebagainya. Ini yang menyebabkan harga ke konsumen menjadi tinggi.

Menurut Gardjita, biaya transportasi produk pertanian di Indonesia belum efisien. Pertama karena distribusi dari produsen ke pasar belum terintegrasi. Kedua karena masih maraknya pungutan resmi maupun tidak resmi. Pungutan resmi itu seperti retribusi yang ditetapkan oleh pemerintah Kabupaten atau Propinsi. “Memang itu hak dari pemerintah daerah untuk mendapatkan pendapatan daerahnya. Tapi hal itu berefek meningkatkan harga ketika sampai ke konsumen. Konon, biaya distribusi produk pangan di Indonesia bisa mencapai tiga belas sampai tiga puluh sekian persen dr harga di pasarnya nanti,” ungkap Gardjita. Situasi ini kemudian akan dibebankan ke konsumen. “Kalau konsumen teriak maka efeknya ke produsen juga. Ini yang selalu kita jaga. Karena bagaimanapun yang sering dirugikan adalah petani, profit marginnya petani itu semakin terdesak,” katanya.

Berarti dibutuhkan komunikasi yang baik dengan berbagai sektor seperti kementerian ekonomi dan Departemen Perhubungan untuk mengemukakan masalah tersebut. Gardjita mengaku bahwa komunikasi antar lintas sektoral maupun dengan pelaku pasar sudah lebih baik. “Hasilnya positif untuk stabilitas harga,” tutur Gardjita.

Bisa Diantisipasi

“Yang perlu diantisipasi bukanlah kenaikan harga menjelang hari besar, tapi lonjakan naik atau turun yang ekstrim,” kata Gardjita. Untuk mengatasinya, pemerintah berkoordinasi dgn pengusaha, memberikan informasi tentang pasar, dan juga memfasilitasi kebijakan-kebijakan tertentu. Di sinilah letak fungsi kontrol sosial dari masyarakat, mengawasi kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah itu.

“Informasi sudah banyak kami berikan ke masyarakat, termasuk petani. Lewat internet berbagai informasi termasuk harga sudah kami berikan. Bahkan menjelang lebaran setiap hari harga kami berikan update. Tapi memang sedikit sekali petani yang mengakses internet. Informasi lewat radio juga sudah ada, hanya saja terbatas jangkauannya. Kalau lewat televisi biayanya terlalu tinggi. Jadi, kita sering berkolaborasi lewat asosiasi-asosiasi pertanian,” kata Gardjita. Tapi terkadang petani lebih pintar, mereka lebih tau apa yang akan terjadi di pasar sehingga informasi dari luar lingkungannya seringkali hanya dijadikan tambahan saja.

“Kami memberikan informasi ke para pengusaha bahwa harga telur akan naik sekian persen sehingga akan ada antisipasi. Selain itu kami juga memfasilitasi impor daging sapi, baik bakalan maupun daging beku. Banyak juga hal lain yang kami lakukan untuk menjaga ketahanan pangan. Sektor swasta juga akan berpikir logis menanggapi pola pasar yang sudah dapat dideteksi,” tutur Ahmad.

Leave a Comment

Telur Ayam dan Daging Sapi Patut Diwaspadai

Data dari Badan Ketahanan Pangan beberapa bulan yang lalu mengatakan bahwa dari sembilan bahan pokok hanya jumlah produksi telur ayam yang lebih sedikit dari konsumsinya. Walaupun sedikit, tapi hal ini bisa menyebabkan ketidakstabilan di pasar. Kemudian dari komoditas lain, ditemukan harga daging sapi di tingkat konsumen terus meningkat melebihi batas wajarnya padahal stok daging sapi sudah tercukupi dengan diperbesarnya keran impor beberapa bulan yang lalu.

Secara keseluruhan memang kita bisa berbangga akan keadaan pangan Indonesia yang sedang di atas angin. Harga lebih murah dari pasar internasional. Stok pangan strategispun sudah bisa membuat kita semua mengelus dada. Namun, perbaikan tetap perlu terus dilakukan demi mencapai kemapanan pangan yang lebih baik lagi.

Telur ayam dan daging sapi merupakan sumber protein hewani masyarakat Indonesia. Gejolak di dalamnya secara langsung maupun tidak langsung akan mengakibatkan gejolak juga di titik yang lain.

Belum Sinergis

Ketika dikonfirmasi kepada Hartono, ketua Pinsar (Pusat Informasi Pasar) Unggas Nasional di sebuah kafe di Bogor mengenai defisitnya produksi telur nasional, ia mengatakan bahwa data tersebut tidak benar. Tidak sesuai dengan kondisi yang ada di lapangan. “Lihat saja, kenyataannya sampai saat ini suplai kita cukup. Seharusnya pemerintah menanyakan kepada kami terlebih dahulu sebagai lembaga yang mempunyai data paling lengkap sehingga kami bisa memberikan data yang lebih akurat,” tuturnya.

Hartono merasa hubungan antara pemerintah dengan asosiasi produsen telur ayam, dalam hal ini Pinsar, kurang begitu sinergis. Mungkin ini yang menyebabkan terjadinya diskomunikasi data yang tersebar di masyarakat tersebut. “Selama ini kami yang bekerja keras membangun kejayaan telur sehingga bisa swasembada seperti sekarang ini. Campur tangan pemerintah sangat kecil. Pemerintah menganggap telur ini sudah merdeka, tidak perlu dibina, akhirnya dilupakan. Keberpihakan pemerintah pada produsen telur masih kurang, terbukti dengan dibukanya keran impor untuk tepung telur yang jelas-jelas menggerus produsen telur lokal. Seharusnya hal seperti ini dibicarakan terlebih dahulu dengan asosiasi,” jelas Hartono.

Melalui Pinsar, banyak petani telur yang masih bisa hidup sampai sekarang sehingga swasembada telur ayam tercapai. Permainan harga semakin jarang terjadi karena petani telur mendapatkan banyak informasi berharga dari Pinsar. Stabilnya harga telur ini tentu menguntungkan bagi konsumen dan produsen. Masyarakat semakin cinta dengan telur ayam, terbukti dari hasil survey yang dilakukan Pinsar. “Survey kita mengatakan bahwa 80% dari rumah tangga punya simpanan telur di dalam kulkasnya. Yang 20% sisanya tidak mempunyai simpanan telur karena tidak punya tempat penyimpanan, tapi tetap setiap hari dia beli telur dari warung-warung,” jelas Hartono.

“Dulu perbedaan harga tertinggi dan terendah telur ayam ini bisa mencapai 20%, tapi semakin membaik setiap tahunnya. Tahun ini perbedaan harga menjadi 15%, tapi kami dari Pinsar tidak cukup puas dengan hal tersebut. Kami menargetkan perbedaan harga bisa ditekan lagi sampai kurang dari 10%,” tegas Hartono. Semakin rendah disparitas harga maka akan semakin stabil harga di petani yang kemudian akan membuat petani telur akan semakin sejahtera.

Selama ini harga telur bergejolak hanya ketika suplai berlebih, tapi keadaan itupun terjadi perlahan, sehingga kenaikan atau penurunan harga juga terjadi perlahan. Antisipasinya bisa cepat dilakukan untuk mengatasi hal tersebut. “Yang harus kita amati adalah tingkat ketersediaan dan tingkat kemerataan ketersediaan tersebut. Bagaimana supaya Indonesia bagian timur tetap terus dapat mengonsumsi telur dari Jawa Timur yang merupakan salah satu sentra produksi telur ayam,” tutur Hartono.

Daging Naik Lebih dari 10%

Harga daging sapi di tingkat konsumen memperlihatkan peningkatan yang lebih dari tingkat kewajaran berdasarkan pernyataan dari pemerintah, yaitu 5-10%. Menurut Gardjita Budi, Direktur Pemasaran Domestik Deptan, Harga normal daging sapi itu 56 ribu, pada awal puasa kemarin berkisar 60-65 ribu. Kemudian pada minggu kedua September mencapai angka 70 ribu.

Berarti kenaikan harga daging sapi adalah sebesar 14 ribu dalam kurun waktu satu bulan menjelang lebaran atau naik lebih dari 20% dari harga sebelum gejolak.

Menanggapi hal tersebut, Teguh Boediyana, Executive Director Apfindo (Asosiasi Perusahaan Feedloter Indonesia) berkomentar bahwa sebetulnya peningkatan harga dari Apfindo di tingkat produsen tidak sebesar yang terjadi di tingkat konsumen. “Kalau kita lihat gejolak harga di feedloter ini memang naik, tapi cuma sekitar 2% saja. Kita dari Apfindo memandang dari harga sapi hidup. Saat ini, sapi hidup rata-rata 22.500/kg atau karkasnya 44-45000/kg,” jelas Teguh. Menurutnya, pengecerlah yang menaikkan harga cukup tinggi karena ingin memenuhi kebutuhannya ketika lebaran.

“Untuk daging sapi ini bisa dikatakan sepanjang tahun stabil. Gejolak terbesar itu ya ketika lebaran ini. Dari H-7 sampai H-1 permintaannya meningkat dua sampai tiga kali dari biasanya. Tapi setelah itu tidak ada kegiatan sampai H+3. Beberapa hari setelahnya juga masih sepi, naik sedikit demi sedikit. Kesimpulannya, hanya terjadi lonjakan di beberapa hari itu saja, tapi setelah itu tidak ada kegiatan kemudian stabil lagi. Jadi, sebenarnya kalau kita tarik garis lurus ya rata-rata saja.

“Yang menarik sekarang ini, pasokan dari sapi-sapi feedlot masuk ke daerah-daerah yang sebelumnya tidak pernah dipasok, seprti Palembang, Aceh, dan Sumatra Utara. Trennya mningkat pesat. Kita kurang tahu mengapa hal ini terjadi. Kami menduga kondisi social ekonomi mereka membaik, dengan harga majunya sawit dan karet mungkin berpengaruh. Daya belinya menjadi lebih baik,” cerita Teguh.

Faktor Psikologis

Selain gejolak yang terjadi secara masal di hampir seluruh daerah di Indonesia untuk harga daging ketika lebaran, beberapa gejolak harga juga terjadi dalam cakupan lokal. “Selain supply dan demand, harga juga dipengaruhi oleh faktor psikologis. Bisa jadi ekspektasi pasar yang menginginkan harga untuk naik, bisa juga nilai-nilai kedaerahan,” jelas Teguh.

Sebut saja Aceh. Setiap tahun, di Aceh terjadi dua kali lonjakan besar-besaran harga daging sapi, yaitu beberapa hari menjelang puasa dan beberapa hari menjelang lebaran. Harganya bisa menembus angka 100 ribu rupiah. “Dalam tiga tahun terakhir ini memang harga ketika menjelang puasa dan menjelang lebaran berkisar 90-110 ribu rupiah,” kata Hendra Saputra dari Dinas Peternakan Nanggroe Aceh Darussalam. Ia menjelaskan bahwa ada yang namanya budaya “megang” ketika menjelang puasa dimana semua orang Aceh akan membuat dan mengonsumsi daging sapi. Tidak sembarangan sapi yang mereka konsumsi, tapi hanya sapi lokal Aceh yang diminati. Padahal, masyarakat bisa saja membeli dari Medan yang hanya mematok harga setengah dari harga daging sapi di Aceh, tapi masyarakat Aceh tetap memilih daging lokal Aceh. “Sapi lokal Aceh kurus-kurus, mempunyai lemak lebih rendah, sehingga akan lebih nikmat untuk diolah menjadi rendang dan olahan daging yang lain,” kata Hendra.

Leave a Comment

Melati Cukup Menjanjikan

prospeknya sewangi bunganya

prospeknya sewangi bunganya

Melati merupakan salah satu komoditas bernilai ekonomi tinggi yang dikenal sejak lama di Indonesia sebagai bunga hiasan pengantin pada pesta-pesta pernikahan. Melati juga digunakan sebagai campuran teh untuk mendapatkan aroma yang sedap. Selain itu, juga sebagai bunga tabur, bahan industri minyak wangi, kosmetika, parfum, dan farmasi. Jenis melati yang sering dibudidayakan adalah Jasmine sambac atau melati putih dan Jasmine officinalle atau melati gambir.

Produksi

Di Indonesia sendiri, produksi melati terbesar ada di Jawa Tengah yang terkonsentrasi di daerah Tegal, Batang, Pekalongan, Pemalang, dan Purbalingga.

Data statistik pertanian 2006 komoditas Melati

Tahun

Luas Lahan (m2)

produksi (ton)

2001

11000

20000

2002

14250

18000

2003

12500

16000

2004

10000

29000

2005

9250

23000

Produksi melati masih sangat bergantung pada musim. Produksi di Jawa Tengah pada musim kemarau antara 5-10 kg/Ha/hari sedangkan pada musim hujan dapat mencapai 300-1000 kg/Ha/hari.

Melati yang siap panen adalah yang ukuran kuntum bunganya besar dan masih kuncup atau setengah mekar. Hasil panen bunga melati terlihat pada umur 7-12 bulan. Panennya dapat dilakukan sepanjang tahun selama 5-10 tahun. Hasil panen melati terbanyak berkisar antara 1-2 minggu. Setelah itu hasil panen menurun dan dua bulan kemudian meningkat lagi.

Pasar

Pasar melati yang terbesar di Indonesia untuk hiasan pengantin adalah di pasar bunga Rawa Belong, Jakarta Barat. Semua permintaan melati dari Jabodetabek berakhir di pasar ini. Tidak jarang pasar ini kewalahan menerima permintaan yang melebihi produksi mereka.

Setiap harinya, Toyo, seorang distributor dari Tegal yang berjualan melati di pasar Rawa Belong, membeli ke pengepul di Tegal dalam bentuk yang masih kotor. Anak buahnya sebanyak 25 orang memprosesnya sehingga siap dikirimkan ke Jakarta. Setiap hari, rata-rata Toyo mendapat kiriman sekitar 12 boks yang isi tiap boksnya 8-10 kg. Dalam tiap boks, melati dibagi-bagi lagi dalam puluhan plastik-plastik kecil yang dibaluri dengan pecahan-pecahan es untuk menjaga kesegaran dan warna putihnya.

Toyo menguasai pasaran melati di Jabodetabek. Bahkan, ia menerima pesanan rutin dari Kalimantan Timur dan beberapa kali dari Irian, Lampung, dan Palembang. Omzetnya sekitar 30 juta sebulan. Hampir seluruh pembelinya menggunakan melati untuk dironce sebagai hiasan pengantin. Di daerah Rawa Belong sendiri, ada 21 unit usaha roncean melati. Beberapa unit lagi ada di Jatinegara, Tanah Abang, dan Bogor. Setiap unit melibatkan sekitar tiga keluarga untuk memproses bunga-bunga melati ini menjadi roncean-roncean yang indah.

Permintaan melati sebagai hiasan pengantin melonjak jauh ketika bulan haji dalam kalender islam dan turun drastis pada bulan ramadhan. Dalam satu minggu, permintaan melati paling banyak adalah hari Sabtu dan Minggu karena banyak pesta pernikahan di hari ini.

Selain dengan cara penjualan konvensional seperti di atas, pemasaran melati juga sudah dilakukan dengan e-commerce, pengiriman dapat dilakukan dengan beberapa cara pengemasan tergantung permintaan dan melibatkan perusahaan jasa pengiriman. Namun, jumlah pengguna e-commerce masih sedikit. Salah seorang pemasar melati dengan e-commerce mengaku hanya menjual rata-rata 1 boks per minggu, jauh berbeda dengan Toyo yang bisa menjual 70 boks per minggu.

Selain merajai pasaran dalam negeri sendiri, melati dari Indonesia juga sudah masuk pasaran dunia. Seorang eksportir melati mengaku dapat mengirimkan ratusan boks setiap minggunya ke Singapura, India, dan Thailand. Pemakaian di negara-negara ini biasanya hanya untuk sesaji atau keagamaan. Ekspor melati ini sudah berlangsung sejak 1990-an.

Minyak Melati

Minyak bunga melati juga mempunyai prospek yang bagus untuk dikembangkan. Bisnis wewangian sudah sering menggunakan melati sebagai bahan dasarnya. Harganya di pasar internasional termasuk tinggi, yaitu mencapai US$ 5000 per liter. Di Indonesia sendiri, minyak atsiri yang dipergunakan untuk industri parfum, kosmetik, dan sabun masih impor. Produsen minyak melati dunia adalah Italia, Perancis, Maroko, Mesir, Cina, Turki, dan India. Untuk produksi dari India sendiri, ekstraksi melati gambir menghasilkan concentrate sebesar 0,28%. Jika diproses lebih lanjut, akan diperoleh minyak sekitar setengahnya.

Sebetulnya Indonesia sudah mampu untuk mengolah bunga melati menjadi minyak. Beberapa peneliti Indonesia juga sudah mengetahui beberapa metodenya. Hanya saja, proses pengolahannya belum terlalu dikenal masyarakat. Lapangan kerja tambahan akan terbuka lebar bagi pelaku pascapanen melati yang sebagian besar sampai sekarang hanya sebatas melakukan panen dan mengangkutnya ke pabrik teh. Usaha ini tentunya akan menambah pendapatan daerah setempat terutama daerah penghasil melati. Tetapi, diperlukan kajian teknologi dan kelayakan finansial pada skala yang lebih besar dengan melibatkan elemen terkait, seperti petani, mitra swasta, dan pemerintah daerah untuk memulai bisnis ini agar dapat berjalan dengan baik.

Potensial

Bisnis melati cukup menjanjikan dengan peluang pasar yang bagus. Nilai ekonominya akan semakin tinggi karena dibutuhkan dalam kehidupan modern sebagai campuran teh, pewangi sabun, bahan baku industri minyak wangi, aromaterapi, kosmetik, cat, tinta, karbol, semir sepatu, dan pestisida. Pasar potensial untuk ekspor melati adalah Hongkong, Taiwan, Jepang, Korea, Thailand, Singapura, dan India. Di Indonesia sendiri, untuk keperluan bunga tabur saja dibutuhkan 600 kg bunga melati setiap harinya. Permintaan melati sebagai campuran teh menyerap konsumsi melati terbesar, yaitu 2-6 ton per hari, dan akan semakin besar mengingat permintaan teh beraroma melati meningkat. Saat ini, tidak sulit menemukan spa yang menggunakan melati setelah didapatkan minyak atsirinya.

Produksi bunga melati Indonesia baru mampu memenuhi sekitar 2% dari kebutuhan bunga melati di dunia. Indonesia memiliki potensi untuk mendapatkan pasar melati dunia lebih dari itu mengingat potensi sumber daya lahan Indonesia amat luas dan agroekologinya cocok untuk bertani melati. Sebuah hasil penelitian dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura di daerah setrum produksi Tegal menyimpulkan bahwa usaha tani melati menguntungkan dan baik untuk dikembangkan.

Comments (3)

Sapi Potong Layak Digenjot

Indonesia sampai saat ini masih terus mengimpor daging sapi beserta jeroannya dengan jumlah yang semakin bertambah setiap tahun. Bertambahnya jumlah penduduk dan pendapatan akan semakin meningkatkan kesadaran akan pentingnya mengonsumsi pangan bernilai gizi tinggi, termasuk daging sapi. Status sapi Indonesia yang bebas PMK sebetulnya dapat dijadikan pijakan kuat untuk menggenjot komoditas sapi potong.

Sebelum era 80an, peternakan sapi potong di Indonesia bisa dikatakan hanya bergerak secara tradisional. Ternak sapi hanya dijadikan tabungan berjalan yang siap diuangkan sewaktu-waktu.

Menginjak era 80an, industri peternakan sapi potong mulai berkembang, azaz efisiensi sudah mulai muncul. Usaha feedlot (penggemukan) sudah mulai dikembangkan. Namun, usaha feedlot tidak semulus yang diharapkan karena sulitnya pasokan sapi bakalan dari dalam negeri. Mulai dari titik ini para produsen lokal mengimpor sapi bakalan dari Australia. Pada akhir era 80an, usaha penggemukan sapi berkembang dengan pesat.

Usaha feedlot mengalami guncangan ketika krisis moneter mendera Indonesia pada akhir 1997. Paling tidak 50 investor dalam industri penggemukan sapi menelan pil pahit pada masa ini.

Memasuki tahun 2001, usaha penggemukan sapi bergeliat kembali. ”Sekarang, keadaannya menjadi sama seperti sebelum krisis moneter mendera, terlihat dari jumlah sapi bakalan yang diimpor,” kata Teguh Boediyana, Sekjen Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI).

Komoditas

2005

2006

2007*

Populasi (ekor)

10.569.312

10.875.125

11.365.873

Pemotongan (ekor)

1.653.770

1.799.781

1.920.167

Impor Bakalan (ekor)

323.916

363.443

496.368

Produksi Daging (ribu ton)

358,7

395,8

418,2

Impor Bibit (ekor)

636

2.108

6.079

Ekspor (ekor)

0

0

4.000*

Patut Bangga

Sampai saat ini, Indonesia merupakan satu diantara 57 negara bebas Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Sejak tahun 1990, Indonesia dinyatakan bebas PMK. PMK bisa dikatakan menjadi penyakit paling ditakuti dan berbahaya karena daya penularannya yang cepat dan juga sangat merugikan secara ekonomis. Oleh karena itu kita sepatutnya bangga akan status tersebut. ”Hal ini merupakan kebanggaan nasional yang harus dipertahankan oleh generasi penerus,” kata Soehadji, mantan Dirjen Peternakan periode 1988-1996.

Tingginya harga daging sapi di Indonesia menjadi konsekuensi akibat bebasnya sapi Indonesia dari PMK. Ini harga yang jauh lebih murah dibanding konsekuensi ketika negara terkena PMK. Nilai kerugian selama terjadi wabah PMK di Indonesia mencapai 11,6 triliun.

Bertahan Karena Status Sosial Tinggi

Peternak sapi potong di Indonesia saat ini sebagian besar adalah pemain kecil yang hanya mempunyai 2-3 sapi saja. Jika dihitung-hitung, jelas usaha seperti ini merugikan. Tapi ada satu hal yang masih meggiurkan bagi masyarakat, yaitu anggapan bahwa orang yang memiliki sapi berarti status sosialnya tinggi. ”Peternak sapi sebagian besar hanya untuk status sosial, istilahnya rojo koyo. Sebetulnya ini yang menjadi sendi-sendi peternakan sapi potong di Indonesia,” kata Rochadi Tawaf, Dewan Pakar Asosiasi Produsen Daging dan Feedlot Indonesia (Apfindo).

Usaha sapi potong termasuk usaha jangka panjang sehingga dibutuhkan modal yang tidak sedikit. Usaha pemerintah yang akan menyediakan dana untuk menyubsidi bunga dalam usaha breeding sapi adalah langkah yang patut diacungi jempol. Namun, keputusan tersebut perlu dipantau agar betul-betul terealisasi. ”Perlu pula dipertimbangkan bahwa keringanan bukan hanya dari bunga bank, tetapi jangka waktu kredit dan grace period harus dipertimbangkan secara cermat,” jelas Teguh.

Sapi Lokal Digemari

Walaupun tidak berbeda jauh, harga daging sapi lokal saat ini masih lebih tinggi dibandingkan harga daging sapi impor. Menurut Teguh, hal ini mengindikasikan bahwa konsumen Indonesia lebih menyukai daging lokal daripada daging impor. ”Masyarakat merasa tastenya lebih cocok dengan daging lokal,” katanya.

Memang, Indonesia saat ini mengimpor sapi, dalam bentuk sapi bakalan maupun daging dan jeroannya, tapi ini dikarenakan kebutuhan dalam negeri yang masih belum tercukupi oleh produksi. Jadi, bisa dikatakan bahwa Indonesia terpaksa impor.

Sayangnya, terjadi ketidakseimbangan yang semakin melebar antara kemampuan produksi dengan percepatan permintaan dari masyarakat. Kejadian ini akan membuka peluang impor (sapi dan daging sapi) yang semakin lebar.

Manurut Teguh, impor sapi ke Indonesia sekarang dalam bentuk sapi bakalan dan daging beku. Kebijakan pemerintah untuk impor daging beku hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumen kelas menengah ke atas. ”Di tempat-tempat tertentu ada steak yang harganya mencapai jutaan. Tapi tetap ada konsumen yang menyukainya. Bahan daging sapi beku berkualitas baik itu kita dapat dari impor,” tutur Teguh.

Beberapa negara pemasok daging sapi dan jeroannya ke Indonesia yaitu Australia, New Zealand, Amerika Serikat, dan Kanada. Beberapa negara lain telah berusaha keras menembus pasar Indonesia, di antaranya India, Brazil, Uruguay, dan Argentina. Pemerintah memang ketat sekali dalam melakukan impor sapi potong, hanya negara bebas PMK yang boleh mengekspor sapinya ke Indonesia.

Swasembada 2010 Sulit Dicapai

Program swasembada daging sapi bisa dikatakan hanya terdengar di Deptan dan sekitarnya. ”Sejak tiga tahun lalu hingga kini masih sekedar diskusi dan wacana saja,” kata Rochadi. Seharusnya ini menjadi program kita bersama untuk dapat memenuhi kebutuhan minimal protein hewani asal daging dengan target 10,1 kg/kapita/tahun yang saat ini baru dicapai sebesar 7 kg/kapita/tahun. Sedangkan kontribusi daging sapi baru mencapai 1,72 kg/kapita/tahun. Program ini mengharapkan kontribusi daging sapi akan dicapai sebesar 2 kg/kapita/tahun pada 2010.

Peningkatan populasi sapi yang dijadikan target pada program ini sebesar 1,55 juta ekor sapi dari populasi saat ini, yaitu sebesar 11,23 juta ekor sapi. Ada tujuh langkah operasional yang difokuskan di 18 provinsi yang akan dilaksanakan pada 2008-2010.

Namun, Tim Indonesian Veterinary Watch dalam laporannya mengatakan bahwa data dan pengamatan lapangan mengindikasikan bahwa Rencana Percepatan Pencapaian Swasembada Daging Sapi 2010 masih belum dapat dicapai sebagaimana yang ditargetkan. Maka dari itu, Indonesia diprediksi masih akan terus mengimpor daging sapi paling tidak sampai tahun 2015.

Menurut Soehadji, untuk memenuhi kebutuhan daging nasional, kita perlu tetap menggerakkan prisnsip bahwa peternakan rakyat harus tetap menjadi tulang punggung, penggemukan sapi dengan sapi bakalan impor hanya dijadikan pendukung dan impor daging hanya untuk memenuhi kekurangan permintaan. Selain itu, program swasembada daging perlu dilanjutkan secara konsisten serta digaungkan dalam kaitannya dengan Program Kebutuhan Pangan Hewani Nasional yang didukung oleh pemerintah dan masyarakat.

Leave a Comment

Prototipe Pemetik Daun Teh

Memang sulit sekali keluar dari lingkaran setan kemiskinan. Pada umumnya, kesejahteraan didapat dari ilmu pengetahuan, tapi untuk mendapatkan ilmu tersebut dibutuhkan batas kesejahteraan tertentu. Dilema seperti inilah yang membawa Iyam, salah satu pemetik daun teh di Gunung Mas, Bogor, tetap menjadi pemetik teh di usianya yang hampir mencapai setengah abad. Kemiskinan tidak bisa ia lepaskan dari kehidupannya dan anak-anaknya.

Setiap hari, kecuali Minggu, Iyam melakukan aktivitas yang sama. Ia bangun pukul empat pagi untuk mempersiapkan hidangan untuk keluarga dan membersihkan rumah layaknya ibu rumah tangga yang lain. Pukul enam Iyam sudah mulai berkemas karena pukul tujuh dirinya dan ratusan pemetik teh yang lain harus sudah mulai memetik teh. Biasanya, Iyam berada di kebun selama sembilan jam per hari. Istirahat hanya dilakukan seadanya saja sambil makan siang dengan makanan yang ia bawa dari rumah, tentunya sudah dalam keadaan dingin. Makanan hangat di siang hari terasa sangat mahal baginya. Setelah selesai di kebun, Iyam bergegas pulang ke rumah untuk mempersiapkan makan malam keluarganya. Acara nonton TV bersama keluarga hanya dapat dinikmatinya sejenak saja karena keesokan harinya Iyam harus bangun pukul empat pagi lagi. Perjuangan seperti ini sudah dilakukan Iyam sejak tiga puluh tahun yang lalu. Tetapi senyuman bahagia tidak pernah lekang dari wajahnya.

Suami Iyam mempunyai pekerjaan utama yang sama, memetik teh. Tapi namanya tidak tercantum seebagai pemetik teh, ia hanya membantu Iyam saja. Kadang-kadang, ia juga berjualan mainan anak-anak di sebuah lapangan yang ramai ketika hari Minggu. Iyam mempunyai lima orang anak. Hanya satu yang masih belum menikah karena masih duduk di bangku Sekolah Dasar. ”Kalau sudah lulus SMP juga langsung saya nikahkan seperti keempat kakaknya,” ungkap Iyam sambil tersenyum. Bangku SMA hanya menjadi angan-angan saja bagi keluarga kecil ini. Bangku kuliah tidak mampu ia bayangkan sama sekali.

Sumber penghidupan Iyam dan keluarganya didapat dari hasil memetik daun teh. Iyam dan suaminya rata-rata bisa memetik daun sebanyak 25 kg per hari yang dapat ia tukarkan dengan uang sebesar Rp13500 (1 kg daun teh = Rp540). Jika beruntung, sang suami bisa memberikan tambahan Rp80000 per bulan dari hasil berjualan mainan anak-anak. Berarti pendapatan per bulan keluarga ini tidak lebih dari Rp500000. Sejumlah uang ini harus terdistribusi dengan sangat baik ke pos-pos pembelanjaan rumah tangga untuk membuatnya tetap hidup.

Iyam sangat ingin untuk terlepas dari lingkaran kemiskinan. Ia berharap paling tidak anak-anaknya sukses, tidak seperti dirinya. ”Tapi apa mungkin lulusan SMP seperti anak-anak saya bisa kaya? Kalaupun ada, kemungkinannya sangat kecil,” sela Iyam dengan tidak melepas senyumannya.

Kisah seperti ini tidak hanya terjadi pada Iyam saja, masih ada ratusan Iyam lain di perkebunan teh ini dengan kehidupan dan penghidupan yang tidak jauh berbeda.

Leave a Comment

Older Posts »