Parung Farm Konsisten dengan Hidroponik dan Aeroponik

Dikatakan bahwa Indonesia adalah negara agraris. Namun, sayangnya teknologi untuk memajukan pertanian kita masih lesu. Teknologi yang ada pun sulit berkolaborasi dengan pemain yang ada di lapangan. Tapi Parung Farm mencoba untuk memulainya dengan segenap tenaga yang dimilikinya. Try and Error masih sering terjadi sejak 15 tahun yang lalu. Walaupun demikian, sekarang bisa dikatakan bahwa Parung Farm adalah produsen sayur dan buah terbesar dan terbaik di Indonesia dengan metode hidroponik dan aeroponik.

Parung Farm merupakan sebuah brand yang diusung oleh PT Kebun Sayur Segar yang berdiri sejak tahun 2003. Produknya terbagi menjadi tiga golongan, yaitu selada, non selada (Caism, bayam hijau dan merah, pak-choi hijau dan putih, kangkung, petsay, dan kalian), dan tomat. Semua produk ini sudah tersebar di semua supermarket dan hypermarket seperti Carrefour, Giant, Hypermart, Makro, Hero, dan masih banyak lagi.

Investasi tinggi memang menjadi kelemahan dari metode hidroponik dan aeroponik. Namun, banyak kelebihan yang dapat diambil dari situ. Metode ini mempunyai produktivitas yang jauh lebih tinggi dibandingkan metode konvensional di tanah. “Produktivitas kita hampir tiga kali lipat lebih tinggi dibanding menanam di tanah,” kata Matius Aritonang, President Director PT Kebun Sayur Segar. Belum lagi kalau kita berbicara tentang stabilitas. Faktor yang harus dikendalikan pada metode ini lebih sedikit. “Kita hanya melakukan treatment air yang betul-betul harus dijaga komposisi dan pH nya. Tidak perlu memikirkan tanah yang ada seperti apa,” jelas Matius. Kalau faktor alam memang masih sulit sekali ditanggulangi sampai saat ini. “Di kebun saya pernah kejadian tiba-tiba ada angin topan, semuanya hancur. Ini yang tidak bisa diprediksi dan sulit sekali ditanggulangi,” katanya.

Air yang digunakan di Parung Farm sedemikian rupa diatur sampai standarnya sama dengan air minum manusia. Ada sebuah tempat penampungan air khusus yang digunakan untuk treatment air tersebut. Air yang sudah digunakan juga dikembalikan ke tempat penampungan khusus itu untuk dimodifikasi dan digunakan kembali. Pengaturan seperti ini tidak akan mengganggu lingkungan. Hidroponik dan aeroponik memang tidak membantu memulihkan lingkungan seperti budidaya tanaman organic tetapi juga tidak merusak lingkungan karena tidak ada residu yang dibuang ke lingkungan.

Tidak Ada Off Season

Karena lebih mudah diatur, maka produk-produk Parung Farm menghasilkan kuantitas, kualitas, dan kontinuitas yang stabil. Jumlah produksinya tidak naik turun, tetapi selalu meningkat secara perlahan. Kualitas produknya tidak berubah-ubah, metode persemaian sampai pengemasan dilakukan dengan suatu mekanisme yang stabil. Pengemasan dengan plastik membuat produk Parung Farm bisa tahan paling tidak sampai tiga hari. “Produk kami selalu segar karena setelah panen, produk langsung dikemas kemudian dikirim dengan mobil box dengan pendingin khusus ke supermarket, restoran, dan café,” jelas Matius. Musim apapun, produk Parung Farm selalu tersedia di swalayan. Harganya juga selalu stabil. Untuk produk kangkung, pak-choi, bayam, dan selada dari Parung Farm, Giant menjual dengan harga sama, yaitu Rp11.900 per 250g.

Parung Farm selalu menampilkan sayuran yang crispy, lebih renyah dari sayuran yang ditanam di tanah. Ini bisa dijelaskan karena suplai air yang dibutuhkan selalu tercukupi dengan metode hidroponik. Sayuran tidak perlu membentuk lapisan lilin yang tebal untuk mengurangi penguapan. Sehingga semua produknya akan selalu renyah. Waktu pemasakan juga akan semakin singkat karena kerenyahan ini.

Kestabilan itu yang menjadi salah satu penyebab jumlah peminat produk Parung Farm terus meningkat, tentunya dari segmen masyarakat ekonomi menengah ke atas. Apalagi, kesadaran makan makanan sehat semakin meningkat saja di masyarakat.

Untuk mengakomodir peningkatan permintaan tersebut, Parung Farm memperluas lahan budidayanya menjadi sekitar 10 Ha yang terbagi ke tiga tempat, yaitu parung, puncak, dan cianjur. Kebun di daerah puncak diperuntukkan bagi tanaman sayuran dataran tinggi seperti berbagai jenis selada dan tomat, sedangkan kebun di parung untuk tanaman sayuran dataran rendah seperti bayam dan kangkung. Jumlah karyawannya saat ini tidak kurang dari 100 orang. Dengan peningkatan permintaan, tentunya akan semakin banyak lagi karyawan dan lahan yang akan digarap.

95% Bagian Dapat Dikonsumsi

Hampir semua sayuran-sayuran Parung Farm dapat dikonsumsi. “Produk kami dapat dikonsumsi sampai 95% bagiannya. Hanya akarnya saja yang tidak dapat dikonsumsi. Ini berbeda jauh dari sayuran konvensional yang mungkin hanya dapat dikonsumsi separuhnya saja,” tutur Matius.

Pencapaian tersebut tidak lepas dari hasil penelitian-penelitian yang dilakukan Parung Farm. Bisa dikatakan bahwa Parung Farm merupakan open company bagi mahasiswa yang ingin melakukan penelitian tentang hidroponik dan aeroponik. “Kami sangat terbuka bagi mahasiswa yang ingin melakukan penelitian di kebun kami. Ada dari hasil penelitian mereka yang dapat kami aplikasikan. Atau terkadang masukan dan kritikan mereka juga cukup brilliant untuk kami tindak lanjuti,” kata Matius. “Perbaikan akan terus kami lakukan untuk meningkatkan produktivitas dengan kualitas yang juga semakin baik.”

Merambah ke Organik

Beberapa tahun terakhir, Parung Farm sudah mengeluarkan produk organik. “Kami melakukannya karena ada permintaan produk organik. Selain itu, membudidayakan produk organik masih sesuai dengan tujuan kami, yaitu mendapatkan makanan sehat dan segar. Tapi ini pun hanya dialakukan secara kemitraan dengan petani sayuran organic di sekitar kebun kami. Kami tetap fokus di jalur kami, yaitu hidroponik dan aeroponik,” kata Matius. Parung Farm saat ini sedang mencoba menanam sayuran organik dengan menggunakan teknologi hidroponik. Ini merupakan tindak lanjut dari sebuah riset yang dilakukan seorang mahasiswa IPB yang dilakukan di kebun Parung farm.

Berbagai inovasi selalu dilakukan Parung Farm untuk merespon pasar yang ada. Selain sayur dan buah organik, Parung Farm juga terus mengembangkan komoditas lain pada hortikultura untuk dibudidayakan dengan metode hidroponik dan aeroponik. “Produk-produk baru ini akan kami lepas sesuai mekanisme pasar. Ketika permintaan pasar meningkat maka akan kami tingkatkan juga produksinya. Tapi kalau pasar tidak berminat, terpaksa kami stop memproduksi komoditi tersebut, ungkap Matius.

Parung Farm juga selalu mengadakan kunjungan terbuka untuk mendidik masyarakat agar tidak buta dengan hidroponik dan aeroponik. Banyak sekolah internasional yang berkunjung ke kebun Parung Farm di Parung. Ada juga pelatihan yang dilakukan untuk umur pra pensiun. “Dengan belajar hal-hal dinamis seperti hidroponik ini, orang-orang yang sudah tua menjadi tidak cepat pikun dan juga menghasilkan,” katanya.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: